Politik Identitas Salah Alamat

*TUDUHAN POLITIK IDENTITAS UNTUK GANJAR SALAH ALAMAT*
Istilah politik identitas di negeri ini dipahami terlalu serampangan. Begitu ada tokoh yang dekat dengan unsur agama sedikit saja, langsung disebut menggunakan politik identitas.

Ini adalah pemikiran yang salah. Bukti masih rendahnya literasi politik di tahun politik. 

Karena menurut Pengamat Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, tidak semua yang berkaitan dengan unsur keagamaan, bisa disebut politik identitas.

Ia menilai, ketika ada satu tokoh politik yang terlihat di layar kaca sedang beribadah, itu bukanlah bagian dari politik identitas. Tapi aktivitas ibadah.

Politik identitas justru mengarah kepada kampanye, atau ajakan dari satu kelompok agar masyarakat menggunakan hak pilih berdasarkan sentimen agama, suku, dan ras.

Kurang lebih begini contoh kalimat kampanyenya: 

"Pilihlah pemimpin A, jika tidak memilih neraka ganjarannya."
"Jangan pilih pemimpin Non-Muslim, karena tidak sesuai dengan kaidah agama."
"Kita ini negara Islam, jangan biarkan kafir memimpin kita.."

Jika memahami lebih dalam maksud dari Adi Prayitno ini, maka tuduhan Ganjar Pranowo menggunakan politik identitas lewat tayangan adzan di salah satu stasiun televisi jelas salah.

Hal demikian tidak ada hubungannya sama sekali dengan politik identitas. Bahkan, seorang Waketum MUI Anwar Abbas menilai, adanya sosok Ganjar dalam tayangan adzan itu justru sangat bagus.

Sebab hal itu berpengaruh dalam kehidupan keagamaan umat Islam. Memberi manfaat daripada mudharat.

Keributan yang muncul di media sosial hari ini, adalah giringan yang sengaja dimainkan oleh lawan politik, yang tidak mendapatkan eksposur sebesar Ganjar.

Tuduhan ini sebenarnya salah alamat. Sebab di negeri ini, sejatinya ada beberapa tokoh yang jelas-jelas punya jejak dengan praktek demikian. 

Strategi ini mereka terapkan pada Pilgub DKI 2017 dan Pilpres 2019. Dan hari ini, mereka kembali mengisi ruang-ruang konstelasi politik. Ikut bertarung di Pilpres 2024.

Maka pemahaman politik ini perlu diperdalam, agar kampanye jahat para pemain politik identitas yang sebenarnya tidak merusak persatuan bangsa.

Jangan biarkan para pemeran politik identitas berkuasa. Ketika mereka digdaya, maka Indonesia berada di dalam bahaya. Slogan Bhinneka Tunggal Ika bakal runtuh. 

*Erlangga Seno/Ganjaran App*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sambutan H.Irman Gusman, S.E., M.B.A. pada Walimatul Ursy Rania Salsabila dengan Diki Sanjaya, Ahad, 03.09.2023